KISAH INSPIRATIF : Mantan Pejuang Jadi Supeltas Tertua Di Solo, Hasilnya Untuk Membantu Orang Lain
Usia senja bukan menjadi halangan seseorang untuk tetap bekerja dan berbuat kebaikan. Slamet Suroso, 71, pria asal Kota Solo, Jawa Tengah, adalah salah satunya.
Di usia senjanya, Suroso masih kuat menjalani pekerjaan sebagai sukarelawan pengatur lalu lintas alias Supeltas. Pekerjaan itu telah dilakoninya selama 15 tahun. Sebelumnya, ia tercatat pernah menjadi anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) Batalyon A430.
Saat menjadi tentara, Suroso pernah terlibat dalam perlawanan menumpas gerakan DI-TII Kartosuwiryo di Purwokerto dan menumpas G30S/PKI. Meski telah pensiun, pria beranak tujuh itu tak ingin berpangku tangan. Ia tetap berusaha menafkahi keluarganya dengan menjadi supeltas. Ia disebut-sebut sebagai Supeltas tertua di Kota Solo.
Berbekal rompi hijau dan peluit, setiap hari Suroso berdiri di bawah sinar matahari di pertigaan Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo, untuk mengatur kelancaran arus lalu lintas. Setiap harinya, ia bekarja selama enam jam, mulai pukul 08.00-11.00 WIB serta pukul 14.00-17.00 WIB.
Dari pekerjaannya itu sesekali ia mendapat uang terima kasih dari pengendara yang melintas. Uang tersebut dipergunakannya untuk menafkahi keluarganya serta membantu para tetangga yang kekusahan.
“Uang yang saya dapat tidak saya pakai sendiri, tapi saya bagikan ke umatnya Allah yang membutuhkan. Dari rakyat, untuk rakyat, akan kembali ke rakyat,” tuturnya dalam video yang diunggah Solopostv di Youtube
Usia senja bukan menjadi halangan seseorang untuk tetap bekerja dan berbuat kebaikan. Slamet Suroso, 71, pria asal Kota Solo, Jawa Tengah, adalah salah satunya.
Di usia senjanya, Suroso masih kuat menjalani pekerjaan sebagai sukarelawan pengatur lalu lintas alias Supeltas. Pekerjaan itu telah dilakoninya selama 15 tahun. Sebelumnya, ia tercatat pernah menjadi anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) Batalyon A430.
Saat menjadi tentara, Suroso pernah terlibat dalam perlawanan menumpas gerakan DI-TII Kartosuwiryo di Purwokerto dan menumpas G30S/PKI. Meski telah pensiun, pria beranak tujuh itu tak ingin berpangku tangan. Ia tetap berusaha menafkahi keluarganya dengan menjadi supeltas. Ia disebut-sebut sebagai Supeltas tertua di Kota Solo.
Berbekal rompi hijau dan peluit, setiap hari Suroso berdiri di bawah sinar matahari di pertigaan Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo, untuk mengatur kelancaran arus lalu lintas. Setiap harinya, ia bekarja selama enam jam, mulai pukul 08.00-11.00 WIB serta pukul 14.00-17.00 WIB.
Dari pekerjaannya itu sesekali ia mendapat uang terima kasih dari pengendara yang melintas. Uang tersebut dipergunakannya untuk menafkahi keluarganya serta membantu para tetangga yang kekusahan.
“Uang yang saya dapat tidak saya pakai sendiri, tapi saya bagikan ke umatnya Allah yang membutuhkan. Dari rakyat, untuk rakyat, akan kembali ke rakyat,” tuturnya dalam video yang diunggah Solopostv di Youtube
Category
🗞
Berita